
Potensi Ekonomi Kurban Rp34,3 Triliun, Tapi Pasar Konvensional Melambat
Jakarta — Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini menghadirkan fenomena menarik dalam pergerakan ekonomi masyarakat. Di tengah tekanan daya beli dan kenaikan biaya hidup, aktivitas kurban tetap berlangsung besar, namun pola konsumsi masyarakat mulai berubah drastis.
Data Labmu 2026 mencatat potensi ekonomi kurban nasional mencapai Rp34,3 triliun dengan melibatkan sekitar 2,75 juta rumah tangga. Angka tersebut menjadikan Idul Adha sebagai salah satu aktivitas ekonomi sosial terbesar di Indonesia.
Namun di balik besarnya potensi tersebut, kondisi ekonomi masyarakat saat ini dinilai membuat transaksi hewan kurban di lapak konvensional tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.
Kementerian Pertanian memastikan stok hewan kurban nasional tahun 2026 berada dalam kondisi aman dengan total kesiapan sekitar 3,24 juta ekor dan surplus mencapai 891.320 ekor.
Meski pasokan ternak melimpah, banyak pedagang hewan kurban mengaku penjualan cenderung melambat, terutama di kawasan perkotaan. Tingginya biaya hidup dan meningkatnya harga distribusi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama Idul Adha tahun ini bukan lagi soal ketersediaan hewan kurban, tetapi kemampuan masyarakat untuk membeli.
Kurban Digital Jadi Jalan Tengah di Tengah Tekanan Ekonomi
Di saat transaksi lapak fisik melambat, layanan kurban digital justru mengalami lonjakan minat. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui program “Kurban Berkah Berdayakan Desa 2026” mencatat pertumbuhan transaksi kurban online yang cukup signifikan.
BAZNAS memproyeksikan potensi ekonomi kurban digital tahun ini dapat mencapai Rp2,5 triliun. Untuk mendukung program tersebut, BAZNAS mengonsolidasikan sekitar 2.781 ekor ternak dari balai ternak dan peternak binaan di berbagai desa.
Salah satu faktor utama meningkatnya minat masyarakat terhadap kurban digital adalah harga yang lebih terjangkau dibanding pembelian langsung di lapak perkotaan.
Jika harga kambing layak kurban di kota besar sulit ditemukan di bawah Rp3,5 juta akibat tingginya biaya operasional dan distribusi, layanan digital menawarkan paket kambing standar mulai Rp2.450.000 untuk bobot 21–26 kilogram.
Paket medium dipasarkan sekitar Rp2.900.000 dan paket premium sekitar Rp3.100.000. Sementara bagi masyarakat yang ingin berkurban sapi namun memiliki keterbatasan anggaran, tersedia opsi patungan satu per tujuh sapi dengan harga sekitar Rp3 juta.
Tidak hanya berkembang di pasar domestik, tren kurban digital juga menyentuh sektor kemanusiaan internasional. BAZNAS mencatat adanya peningkatan partisipasi masyarakat dalam program kurban untuk Palestina, mulai dari paket domba reguler hingga sapi yang disalurkan langsung ke wilayah pengungsian.
Pengamat ekonomi menilai perubahan pola konsumsi ini menunjukkan masyarakat kini semakin sensitif terhadap harga, efisiensi, dan kemudahan akses dalam menjalankan ibadah kurban.
Efisiensi Distribusi Jadi Tantangan Besar Sektor Peternakan
Momentum Idul Adha 1447 H juga menjadi pelajaran penting bagi sektor peternakan nasional. Surplus stok ternak disebut tidak cukup apabila distribusi dan daya beli masyarakat tidak berjalan seimbang.
Model kurban digital dianggap mampu memangkas rantai distribusi yang panjang karena hewan dibeli langsung dari sentra peternakan dan dipotong di daerah asal sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.
Pengamat menilai transformasi digital dalam sektor kurban perlu mulai diadopsi lebih luas oleh pelaku usaha peternakan maupun sektor swasta agar distribusi ternak menjadi lebih efisien dan harga tetap kompetitif.
Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu memperkuat sistem logistik ternak nasional agar hewan kurban dari sentra produksi seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur dapat terserap optimal tanpa dibebani biaya distribusi yang tinggi.
Pada akhirnya, Idul Adha 2026 menjadi gambaran bagaimana masyarakat Indonesia beradaptasi di tengah tekanan ekonomi. Meski daya beli melemah, semangat berbagi tetap bertahan dengan cara baru yang lebih efisien dan terjangkau.











