
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa skema prasmanan terbukti sangat efektif dalam menekan angka sisa makanan terbuang (food waste) sekaligus memastikan para siswa mengonsumsi asupan gizi yang lebih maksimal sesuai kebutuhan tubuh mereka.
Lebih Segar, Fleksibel, dan Cegah Makanan Mubazir
Penerapan skema prasmanan memberikan kebebasan bagi para siswa untuk mengambil porsi makan yang pas dengan tingkat nafsu makan mereka masing-masing. Langkah ini menjadi solusi atas permasalahan sisa makanan yang sering terjadi pada model makanan kemasan siap saji (box/tray) bertakar seragam.
Selain mencegah makanan terbuang sia-sia, hidangan prasmanan disajikan dalam kondisi yang lebih segar dan hangat. Bagi siswa yang membutuhkan porsi lebih besar, mereka juga diperbolehkan untuk menambah masakan, sehingga kebutuhan kalori dan nutrisi harian anak-anak dapat terpenuhi dengan baik.
Tetap Hemat dan Efisien dengan Porsi Anggaran Rp15.000
Meskipun menghadirkan konsep penyajian yang lebih segar dan interaktif, BGN memastikan bahwa skema prasmanan ini tidak menambah beban anggaran negara.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan bahwa alokasi anggaran program MBG tetap berada pada batas Rp15.000 per porsi. Keberhasilan terobosan ini membuktikan bahwa efisiensi dan peningkatan kualitas layanan gizi dapat berjalan seiring lewat manajemen pelayanan yang cermat di lapangan.
Target 5.000 SPPG Terapkan Prasmanan di Akhir 2026
Uji coba (piloting) skema prasmanan ini telah menjangkau 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Sebarannya mencakup kawasan Pulau Jawa, Sumatera (Aceh dan Palembang), hingga ke kawasan terdepan dan terluar (3T) di Merauke.
Melihat tingginya antusiasme dari pihak sekolah dan para murid, BGN menargetkan sebanyak 5.000 SPPG dapat mengoperasikan model penyajian prasmanan ini hingga akhir tahun 2026.
"Pelaksanaan MBG prasmanan tentu disesuaikan dengan kesiapan masing-masing pihak dapur SPPG dan sekolah. Jika sudah terbiasa, skema ini sangat bagus untuk membangun edukasi pola makan anak sekaligus memastikan makanan yang disiapkan tidak mubazir," ujar Kepala BGN Sudaryono.
Membangun Karakter Mandiri dan Budaya Hargai Makanan
Penerapan metode prasmanan juga membawa dampak edukatif bagi pembentukan karakter para siswa. Anak-anak diajarkan untuk mandiri, mengantre dengan tertib, bijak mengukur porsi makanan sendiri, serta menanamkan budaya untuk tidak menyisakan makanan.
Inovasi ini mempertegas komitmen BGN dalam menghadirkan program pemenuhan gizi nasional yang tidak hanya menyehatkan tubuh anak-anak bangsa, melainkan juga berwawasan lingkungan dan efisien secara operasional.
(1).png)









